Sosok Penunggu Rumah mbah Buyutku

Rumah Mbah Buyutku


Mbah buyut tinggal sendirian,anak2 nya merantau ke malaysia,dan yang satu lagi tinggal agak jauh,yang paling dekat adl keluargaku.

Aku putuskan menemani mbah buyut sepulang dari ngaji,aku menemani simbah tidur pada tiap malamnya.

Dua plong rumah joglo dan satu dapur serta kamar mandi dibelakang,halaman samping kiri kanan lumayan luas,klo sore hari buat mainan sepak bola ank2 tetangga,pohon sawo,jambu air,pisang,belimbing,kersen serta pohon kelapa mengutari rumah mbah buyutku.

Waktu itu hanya ada 3 titik lampu listrik,depan rumah,kamar mandi serta kamar tidur.minim penerangan.

Didapur masih memakai lampu dari minyak tanah,jadi remang2,padahal disitu ada jagak / tiang dari batu kapur yang besar serta senthong/ ruangan untuk penyimpanan gabah / padi.

Tiap harinya aku sempatkan membersihkan rumah mbah buyut.

Disitu aku juga bisa menyalurkan hoby memanjat pohon ku heheh,sama temen2 tentunya.

Menjelang sore begitu ramai oleh saya dan ank2 tetangga sebelah bermain,tapi setelah maghrib menjadi sepi,hanya ada simbah dengan ayam2nya.

Malam itu seperti biasa,aku temani tidur simbah_

Sengaja aku tidak langsung tidur karena menunggu jam 24:00 untuk pulang sebentar menonton telenovela hati yang mendua,rumahku berjarak sekitar 50 meter dari rumah mbah buyut.

Jam ditanganku menunjukan angka 23:40 menit,aku bergegas pamit simbah untuk pulang dlu.

Aku tengok kanan kiri halaman rumah simbah, sepi.

"Titip simbah sebentar,jangan ganggu simbah" ucapku ntah pada siapa hehehe

Kemudian aku berlari kecil, melewati kandang kambing dan sapi tetangga,.bauk hehe

Aku tidak lewat pintu depan,karena jelas sudah dikunci,aku lewat jendela kamarku yang memang tidak aku kunci sebelumnya.

Rumahku ada dipaling pinggir kampung,dikaki bukit merak,dibawah rumpun bambu,dekat dengan kolam.

Klo malam terdengar banyak swara kodok dan nyanyian pohon bambu, indah dan misterius karena masih banyak terdengar juga binatang malamnya.

Sebelum masuk aku ke belakang mau mencuci kaki terlebih dahulu_kamar mandi tanpa atap,hanya dipagari setengah tembok semen dan sebagian masih bambu.

Terlihat jelas pohon2 jati besar dihutan merak itu.

Suara burung hantu dan burung yg laen sudah biasa bagiku,bahkan kadang suara tawa perempuan malam pun sudah tidak menakutkan aku.

Ya,karena punya nya rumah dipinggiran bukit harus menerima jika ada hal2 seperti itu.gak ada pilihan hee

Selesai mencuci kaki,aku mendengar seperti geraman

"Aku tahu kau dibalik tembok ini"pikirku sambil mengendap sembunyi menempelkan tubuhku pada tembok itu.

Pelan2 aku tengok dibalik tembok,.

Ada penampakan kepala gundul dengan kedua mata bolong ,hidung bolong mulut bolong.

Hanya kepala saja tak ada yang laen

"Emang kamu bisa liat aku?" Tanyaku

Aku tabok kepala itu "pukk" kira2seperti itulah suara yang dihasilkan dari telapak tanganku bertemu dengan kepala itu.

Sesaat kemudian melayang dan hilang digelapnya bukit.

Sejam berlalu,telenovela habis,aku keluar lewat jendela lagi untuk kembali kerumah mbah buyut.

Aku bersenandung kecil untuk mengusir rasa takut hehehe 

50 meter tapi terasa 500 meter, perasaan gak sampai2.

Aku jongkok karena bingung.

Aku mulai berdo'a,aku ambil batang kayu kering.

Mulai berjalan lagi,bershalawat lirih,.

Terdengar suara ank ayam "anak ayam siapa malem2 keluar,apa gak bisa pulang x ya?"pikirku.

Aku tengok kanan kiri,ada cewek dideket pohon pisang "permisi mbak,numpang lewat" sapa ku sambil lari hehehe

Suara anak ayam itu ternyata mbak kunti.

Aku buka pintu depan pelan sekali,biar sopan yaa

Simbah buyut ga ada dikamarnya,bergegas aku cari didapur dan benar terdengar suara tongkatnya "thuk thuk thuk" aku mempertajam pendengaranku.

Mbah buyut berjalan mengelilingi tiang batu kapur berulang kali.

"Mbah njenengan (kamu) mau kemana?"tanyaku

"Mau ambil air putih,mau buang air kecil juga"

Jawabnya.

Tak pegang tanganya,tak tuntun sampai kamar mandi

"Yang ambil air putih aku saja yaa,simbah buang air kecil dulu,sekalian ambil air wudhu dah tidur toh ya tadi? "

"Iyow " jawabnya

Aku masuk ke dapur lagi "mbok tolong jangan ganggu simbah,kasian sudah sepuh(tua)" pintaku sambil tak tepuk2 tiang batu kapur besar itu,seolah itu hidup padahal ntah lah hehehe

Sering mbah buyutku dibuat bingung disituh,muter2 mengelilingi tiang itu klo malem hari.

Sesaat kemudian kami shalat sunnah berjamaah.

Dan tidur sampai menjelang subuh.

Alfatekhah teruntuk simbah buyutku.

Smoga gusti Allah memberikan tempat terindah disana_Amien.

Post a Comment

Previous Post Next Post